Saturday, 15 December 2018
halomalang.com

​Foto: Tak Hanya Kabut, Ada Kearifan Lokal di Desa 'Kaki Langit'

Selain panorama indah di lerang Arjuno-Welirang, kawasan Sumber Brantas dikenal sebagai penghasil kentang terbaik di Jawa Timur.

'Kentangku Kala dan Kini' Untuk kali pertama desa di lereng Arjuno-Welirang ini menggelar festival seni budaya bertema agrikultur. Sabtu, 24/11/2018. (Dok: Halomalang)

Festival Desa Kaki Langit Sumber Brantas memang baru kali pertama digelar pada 24 - 25 November 2018. Tak hanya membidik potensi Agrowisata, maupun seni budayanya, kita diajak sedikit bernostalgia tentang kearifan lokal warga di kawasan dataran tinggi Kota Wisata Batu ini.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko bersama sejumlah pejabat Disparta, tokoh masyarakat Sumber Brantas dan para pemuda Karang Taruna setempat menggelar ritual Ponjo (menanam bibit) Kentang di area perkebunan Brakseng yang berkabut, Sabtu (24/11/2018).

Para tokoh masyarakat tampak mengenakan pakaian hitam dan sarung yang tersampir di leher. Ini adalah pakaian yang khas ditemui pada masyarakat yang tinggal di dataran tinggi seperti Tengger dan Dieng.

Setelah do'a bersama, Dewanti memasukkan 16 butir bibit kentang ke dalam tanah yang telah digemburkan. Jumlah ini bukan asal-asalan, tapi berasal dari hitungan Jawa Sabtu Pon (Sabtu = 9), (Pon = 7) yang bertepatan pada hari penanaman. Termasuk ke mana arah menghadap bibitnya.

Juadi, Kepala Desa Sumber Brantas menyebut cara-cara ini sudah dilakukan turun temurun oleh para petani kentang di wilayahnya. Untuk diketahui, selain panorama indah di lerang Arjuno-Welirang, kawasan Sumber Brantas dikenal sebagai penghasil kentang terbaik di Jawa Timur.

"Semoga ke depan kita bisa menggali lebih banyak potensi di Sumber Brantas. Terutama sektor pertanian. Kami akan membentuk Desa Wisata pertanian yang sesuai dengan misi Kota Batu yakni Desa Berdaya, Kota Berjaya," kata Juadi.

Usai ritual penanaman, Dewanti turun untuk menghadiri pagelaran seni budaya di area Balai Desa Sumber Brantas.

"Di atas tadi sore kabutnya luar biasa indah sekali. Saya diajak menanam kentang dan ritual adat ini harus terus dilestarikan," terang Dewanti ketika membuka Festival.

Ia mengapresiasi peranserta warga yang tetap bersemangat meski hujan turun di tengah festival.

"Luar biasa, dari PAUD hingga SMP termasuk ibu gurunya ikut serta. Festival ini harus berkembang lebih baik. Nantinya kita bersama semua pihak baik masyarakat, Dinas Pariwisata, DPRD, menjadikan festival ini sebuah Ikon wisata. Kemudian kita undang para pelaku pariwisata dari luar kota untuk melihat keindahan alam dan kesenian yang bagus ini," sambung Dewanti.

Usai memberi sambutan, Dewanti dan sejumlah pejabat kota diajak Nunu Kentang. Nunu kentang ini adalah membakar kentang dalam bara api berbahan bakar arang. Di era modern, kentang-kentang dibungkus alumunium foil untuk menghindari gosong. Di jaman dulu, kebiasaan ini dilakukan masyarakat Sumber Brantas di pawonan (perapian) dapur, ditemani secangkir kopi untuk menghangatkan silaturahmi.

Nama Festival Kaki langit diambil dari letak geografis Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji yang terletak di atas ketinggian 1500 mdpl. Tertinggi di area Kota Wisata Batu.

Selama dua hari festival, panitia penyelenggara dari Karang Taruna setempat menggelar ragam kesenian, mulai dari permainan tradisional egrang, Reog Ponorogo, tarian petani, jalan sehat, gandrung rasul, band, dan juga Jaranan.

Dua delegasi khusus datang dari Kabupaten Kediri (Jaranan) dan tari tradisional dari Kabupaten Malang.

Selain area perkebunan kentang dan sayur, di kawasan ini terdapat mata air yang merupakan titik nol Sungai Brantas yakni Sumber Brantas itu sendiri. Di sisi utara Brakseng terdapat sumber mata air panas Cangar yang sudah terkenal dari dulu.


BACA JUGA