Saturday, 15 December 2018
halomalang.com

Ada Semangat Baru Pendorong Ekonomi Kreatif di Kota Batu

​Jauh sebelum istilah Ekonomi Kreatif (Ekraf) populer seperti sekarang, di Kota Batu sudah terbentuk Creative Society.

Deklarasi Batu Creative Hub (BCH) di Omah Koempoel. Selasa, 04/12/2018. (Dok: Muhammad Anwar/BCH)

Setelah dua tahun menjadi embrio, Batu Creative Hub (BCH) dideklarasikan bersama komunitas 16 sub sektor industri kreatif se-Kota Batu di Omah Koempoel, Selasa (04/12/2018).

"BCH ini forum komunikasi, bukan suatu organisasi baru. Karena yang ada di dalamnya adalah komunitas 16 Sub sektor industri kreatif. BCH tidak mengenal struktur ketua sekretaris, hanya koordinator umum. Forum ini sifatnya independen, setara dengan aktor Pentahelix lainnya," kata Muhammad Anwar, Koordinator BCH dalam keterangannya.

Sejumlah nama komunitas yang hadir di antaranya: Jejaring BCH, Asosiasi Pengusaha Kota Batu, Gabungan Forum UMKM Kota Batu, Asosiasi Profesi Pariwisata, Komite Seni, BUMDes, Lembaga Pendidikan, Media, OPD, Diskoperindag, Disparta, Dinas Pertanian, Humas dan Infokom Pemkot Batu. Kegiatan ini difasilitasi Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau oleh Sekretaris Daerah Pemkot Batu Bagian Ekonomi Pembangunan.

"Ini menjadi spirit kami di BCH, bahwa Kota Batu sudah identik dengan ekonomi kreatif (sejak dulu). Walaupun, kalau dibanding kota-kota lain, kota ini termasuk telat kalau hari ini ngomongin kota kreatif, komunitas/forum/litas sektor kreatif. Ini telat pelembagaannya. Secara parsial, elemen-elemen ekonomi kreatif itu sudah tumbuh, tapi tidak punya daya dorong yang kuat karena jalanya masih sendiri-sendiri," jelas Anwar.

Menurut pemuda yang aktif blusukan antar kampung ini, pertumbuhan ekonomi Kota Sejuk (Batu) sudah subur sejak awal 2000an. Kala itu statusnya masih Kotatif. Hal tersebut ditandai dengan terbentuknya Creative Society yang berisi para anak muda pegiat seni rupa, desain grafis, pematung, tukang sablon, hingga pegiat seni pertunjukan. Di sisi lain ragam produk kriya, kuliner, hingga musik juga tumbuh karena kota ini terkenal sebagai tujuan wisata sejak lama.

"Jauh sebelum istilah 'Ekonomi Kreatif' yang dikenal sekarang," sambungnya.

Dalam cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional (2008), Ekonomi Kreatif diartikan sebagai era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi yang telah berjalan sebelumnya.

"Dengan lahirnya BCH, maka impian Batu menjadi Kota Kreatif yang berjejaring dengan ICCN (Indonesia Creative City Network) dan MoU dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bisa segera terwujud. Kenapa Kota Kreatif ini penting? Sebab adanya Kota Kreatif menggerakkan aktor Pentahelix ABCGM (Academy, Business, Community, Goverment, Media) menjadi terkoneksi dan berkolaborasi menjalankan regulasi pemajuan ekonomi kreatif di Batu, bentuknya berupa Road Map Pembangunan Ekonomi Kreatif Kota Batu," ujar Andang, Kabag Ekonomi Pembangunan Setda Pemkot Batu yang turut hadir.

Hal-hal yang tak boleh terlupakan dan menurut Andang adalah tujuan utama yang hendak dicapai adalah pemajuan budaya, kesejahteraan sosial, dan pelestarian lingkungan berkelanjutan.

Dalam publikasi Kemenpar dan Ekraf RI tahun 2014 berjudul "Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025" tertulis definisi ke-16 sub sektor Ekonomi Kreatif: Film-Animasi-Video, Aplikasi dan Game, Musik, Arsitektur, Desain Komunikasi Visual, Fashion, Kriya, Kuliner, Desain Interior, Desain Produk, Fotografi, Periklanan, Penerbitan, Seni Pertunjukan, Seni Rupa, Televisi dan Radio.


BACA JUGA