Wednesday, 13 November 2019
halomalang.com

Penguatan Pendidikan Karakter di Era Global: Menumbuhkan Empati pada Hewan Melalui Media Animasi

25-Jun-2019 [00:00]
Tim dosen dari Universitas Gajayana Malang melakukan Pengabdian Masyarakat dengan memperkenalkan Pendidikan Karakter berbasis Pendidikan Empati pada hewan melalui media animasi untuk anak sekolah dasar di SDN Sidomulyo 01, Kota Batu.


Sebagai salah satu fokus pengembangan pendidikan nasional saat ini, pendidikan karakter menjadi hal yang sering diperbincangkan oleh banyak kalangan, baik akademisi maupun praktisi pendidikan. Sejalan dengan itu, Kurikulum 2013 menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan nasional saat ini,dan harus sejalan dengan gagasan Penguatan Pendidikan Karakter. Hal ini menjadi cerminan bahwa integrasi antara Kurikulum 2013 dan Penguatan Pendidikan Karakter harus dijadikan pedoman bagi seluruh pelaku pendidikan dalam mengelola pembelajaran dalam kelas. Integrasi tersebut dapat diperkenalkan pada peserta didik melalui pendidikan empati kepada hewan.

Tim dosen dari Universitas Gajayana Malang menginisiasi hal ini dengan melakukan Pengabdian Masyarakat dengan memperkenalkan Pendidikan Karakter berbasis Pendidikan Empati pada hewan melalui media animasi untuk anak sekolah dasar di SDN Sidomulyo 01, Kota Batu. Tim Abdimas membuat media animasi untuk murid dan memberikan pelatihan dan pendampingan pada guru di SDN Sidomulyo 1 Batu. Dapat digarisbawahi penguatan kompetensi guru menjadi hal yang harus dipenuhi supaya mampu sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman. Hal ini yang dilakukan oleh Tim Abdimas dari Universitas Gajayana dengan tujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta keteladanan pada guru. Guru menjadi figur penting bagi para murid dimana mereka harus terus mengembangkan kompetensi nya agar dapat memajukan pendidikan di Indonesia. Hal yang tak lebih penting adalah menanamkan dan menumbuhkan karakter yang positif bagi murid. Kegiatan ini didanai oleh hibah dana KEMENRISTEKDIKTI dengan anggaran tahun 2019. Seluruh kegiatan tim ini dilakukan sesuai kebutuhan mitra. Mitra pada kegiatan ini adalah SDN Sidomulyo 01 Kota Batu.

Pendidikan empati yang melibatkan hewan merupakan hal baru dalam kurikulum pendidikan dan sangat memungkinkan untuk diadopsi dan diterapkan di Indonesia, terang ketua PKM, Risa Juliadilla, M.Psi, Psikolog. Tema pendidikan empati terhadap hewan menjadi pilihan karena secara umum ranah kognitif masih menjadi narasi utama dalam pendidikan di Indonesia. Padahal, aspek afektif, dalam hal ini, pendidikan karakter memiliki tingkat urgensi yang sejajar dengan aspek kognitif. Sejalan dengan itu, sekolah dianjurkan menyikapi hal ini dengan perhatian penuh agar output yang dihasilkan memiliki keseimbangan pada kecerdasan kognitif dan emosional. Ini ditunjukkan melalui tumbuhnya empati murid terhadap lingkungan sekitar, salah satu nya kepada hewan.

Pendidikan empati dapat disematkan pada Kurikulum 2013 dengan mata pelajaran yang tematik dan terpadu. Karena dengan melalui satu objek saja guru dapat mengajarkan banyak hal. Misalnya, dengan mempelajari mengenai objek anjing maka dapat dipelajari kebiasaan dan bahasa tubuh anjing agar anak mengetahui tindakan pencegahan agar tehindar dari cedera yang disebabkan agresi anjing, mengingat kuat nya stigma anjing sebagai hewan yang agresif. Padahal, di luar negeri, posisi anjing sejajar dengan pemilik nya, yaitu sebagai anggota keluarga. Melalui anjing,guru juga dapat menjelaskan mata pelajaran IPA terkait perkembangbiakan dan kemampuan indera pada anjing. Sedangkan dari mata pelajaran agama, guru dapat mengajarkan cara bersuci bila anak terkena air liur (bagi murid yang muslim). Hal yang lebih penting lagi dapat dibahas pada pelajaran KWN, perihal rasa saling menghormati satu sama lain. Bilamana dicontohkan, anak harustetap menghormati bila ada teman sebayanya yang memelihara anjing. Hal-hal yang dapat dipelajari dari hewan tidak melulu berkaitan dengan sains namun juga dapat mengajarkan hal yang lebih mendasar dan universal, yaitu tentang kebaikan”, ujar ketua tim PKM, Risa Juliadilla, M.Psi, Psikolog yang merupakan seorang psikolog lulusan Universitas Airlangga.

Salah satu tim anggota yaitu Mohamad Iksan, S.Psi, M.A yang merupakan ahli psikologi pendidikan alumni Universitas Gadjah Mada, juga menyetujui hal tersebut. Pembelajaran tematik terpadu bertumpu pada kehidupan sehari-hari. Keterampilan dan kreatif guru dalam menghubungkan tema satu ke tema lain menjadi keterampilan yang harusdimiliki semua guru. Guru adalah pelaksana kebijakan Kurikulum 2013, maka guru ikut harus menyemarakkan Kurikulum 2013 yaitu dengan mengintergrasikan ketiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai capaian pembelajaran. Hewan dipilih sebagai topik utama dalam pengenalan pendidikan karakter bagi anak-anak di jenjang pendidikan dasar karena didasari oleh kedekatan anak dengan hewan yang ada di sekitar mereka.

Hewan juga makhluk hidup yang sangat rentan dan mudah untuk disakiti, melalui pengajaran welas asihkepada hewan dipercaya dapat diterapkan pada manusia. Selain itu, secara umum anak memiliki ketertarikan universal kepada mahluk hidup di sekitar mereka. Interaksi anak dengan hewan juga dipercaya mampu memicu perkembangan aspek emosional anak ke arah yang lebih terstruktur. Kombinasi materi mengenai empati pada hewan yang disampaikan melalui media animasi dipercaya mampu merangsang minat belajar anak dalam kelas. Media animasi dipilih karena menarik, dan bisa digunakan secara interaktif untuk beragam aktivitas di kelas. Sehingga mampu mengoptimalkan kegiatan belajar siswa. Beberapa penelitian yang sudah dilakukan, memperkuat gagasan bahwa terbentuknya empati anak dapat diukur melalui bagaimana empati mereka terhadap hewan.

Sejalan dengan paradigma Kurikulum 2013 yang juga menuntut perkembangan teknologi, maka metode dan media pembelajaran juga ikut berubah. Pembelajaran karakter tidak berjalan efektif bila hanya menggunakan ceramah. Sudah sepatutnya muedia pembelajaran sejalan dengan perkembanganzaman, berkaca pada era digital saat ini. Salah satunya dengan bantuan media animasi yang mampu menarik dan mempertahankan motivasi siswa. Animasi dapat menjembatani daya imajinasi anak saat guru menjelaskan suatu materi. Pendidikan empati yang disisipkan pada kurikulum 2013 dengan media animasi merupakan perpaduan yang sesuai bagi anak SD mengingat, Anaklebih suka melihat suatu hal yang menarik, bergambar dan berwarna daripada teks. Hal yang dicontohkan pun adalah hal yang sederhana dan dapat ditemui di kehidupan sehari-haripungkas anggota yang bergerak di bidang IT yaitu, Fachrudin Pakaja, S.Kom, M.T.Pembuatan animasi ini juga dibantu oleh tenaga professional dengan kepakaran media pembelajaran berbasis IT yaitu Usman Nurhasan, S.Kom., M.T.

Sebagai kesimpulan, pendidikan karakter yang menjadi nafas dari kurikulum 2013 dapat disajikan dengan muatan materi yang menarik dan mudah dimengerti. Seperti pada pengenalan empati kepada hewan melalui media animasi yang dapat menghidupkan suasana kelas menjadi interaktif dan menyenangkan bagi murid. Berikut adalah cuplikan scene dari media animasi yang menjelaskan mengenai pendidikan karakter. Tema yang digunakan adalah contoh sederhana yang ada pada kehidupan sehari-hari salah satunya isu mengenai kesejahteraan hewan yang memunculkan rasa empati pada anak.



BACA JUGA